Wednesday, 13 December 2017
Selamat datang",PengunjungMasuk atau Daftarkan

Saya mulai trading forex bulan Agustus 2001, satu bulan sebelum tragedi WTC 11 September 2001. Tanggal 13 September saya ada posisi buy USD/JPY diangka 118 sekian. Seperti Anda ketahui, kemudian USD/JPY naik ke 135 sekian dan turun lagi ke 103 sekian. Anda pikir saya profit banyak? Tidak. Selama kurun waktu itu, saya katakan, itulah awal penderitaan saya di Forex. Lebih tepatnya sekarang saya katakan pelajaran sekolah Forex saya dimulai.

Kenapa saya berkata seperti itu? Tanggal 14 September 2001, saya lihat di monitor, harga USD/JPY masih di situ-situ aja. Saya kemudian ke toilet. Ketika saya kembali, muncul harga 116.90. Jantung saya deg-deg-an, busyet harga terjun bebas ya? Kok seperti air terjun Niagara, pikir saya. Meski saya tidak tau seperti apa air terjun Niagara. Saya juga mikir, kalau debit air arung jeram, diangka 10 kali ya, deres sekalee.

Posisi saya masih floating sampai tanggal 20 September 2001 dan jantung saya tidak kuat melihat harga turun terus di 115.80. Teman-teman menyarankan di lock aja, di hedging aja. Saya panik, okey deeh saya lock diangka 116.10.
Saya pulang subuh, badan loyo, muka kusut. Parahnya sampai rumah saya ga bisa tidur. Gimana mau merem, kalau tiap 10 menit saya masih telpon ke kantor tanya harga running di berapa. Karena waktu itu saya ga ada internet yang bisa di buka dirumah seperti sekarang ini.

Dan selanjutnya seperti Anda ketahui harga USD/JPY terbang terbang dan terbang terus. Saya juga pusing pusing dan pusing, setres setres dan setres. He he he Hidup rasanya ga ada keinginan apa-apa. Mengingat uang yang saya pakai trading adalah hasil penjualan mobil saya. Dapat dikatakan satu-satunya mobil saya, saya jual. Setelah sebelumnya saya menghabiskan semua uang cadangan saya.
Kalau Anda mau bilang saya tolol, saya terima. Kalau Anda mau bilang saya kurang hati-hati, benar juga, saya terima. Itulah saya pada saat itu, sering menatap monitor harga USD/JPY dengan mata berlinang. Saya amatin terus pergerakannya. Saya catat, saya ingat-ingat. Saya ga mikir cari profit lagi bagaimana caranya. Tidak, saya sudah tidak ingat profit lagi. Saya sudah down.

Disaat down, saya bertanya dalam hati dan begitu banyak pertanyaan dihati saya. Saya tanya kenapa harga bisa naik turun? Alasannya apa? Kalau ada alasannya, kemudian kenapa harga bisa stop disitu. Sehingga akhirnya saya tulis pertanyaan-pertanyaan saya dan mencoba mencari jawabannya. Dan berpikir, kapan ya saya dapat jawabannya? Kepada siapa saya harus mencari jawaban ini? Jawaban yang sekiranya dapat memuaskan saya.
Lalu kemudian saya sadar, dengan keterbatasan pengetahuanku tentang forex, bagaimana saya dapat mencerna jawaban tentang pertanyaan saya. Ga dapat jawaban bingung. Dapat jawaban lebih bingung lagi. Kok bisa alasannya seperti itu? Kata temen begini jawabannya. Baca di internet laen lagi jawabannya. Mencoba mencari jawaban dengan melihat grafik, malah tambah bengong. Aduuhh, bagaimana nih!

Belum kalau saya menemukan pertanyaan yang sama, tapi dengan dua jawaban yang berbeda. Maksudnya gini, misal pertanyaan 3 bulan yang lalu, sudah dijawab 3 bulan yang lalu pula. Tapi hari ini, saya dapat jawaban laen lagi, jawaban yang berbeda. Yang bener yang mana? Saya berpikir keras, apakah bisa kedua jawaban ini benar? Satu perubahan angka currency bisa dengan bermacam-macam alasan yang mendukung Itulah yang saya lakukan hari demi hari. Catatan trading tahun lalu, menjadi basi di tahun berikutnya.

Catatan kemaren menjadikan saya tersenyum geli hari ini. Dan seterusnya, saya sadar ternyata saya selama ini lebih banyak belajar tentang technical trading. Kenapa? Karena kemampuan bahasa inggris saya yang sangat minim. Sehingga bila saya menemukan hal-hal baru dalam trading, saya beri nama sendiri. Nama lucu-lucu sesuka saya. Dan yang tahu artinya hanya saya sendiri. MIsalnya ketika harga cepat sekali bergerak, saya beri nama "tsunami". Kalau harga running pelan, saya beri nama "debit satu." Debit itu istilah yang saya tahu sering dipakai untuk arung jeram. Kalau debit 4, air nya lumayan deras, asyik untuk ber-arung jeram.

Trading bagi saya tidak mudah, butuh kesabaran dan ketekunan. Saya hanya mikir mau belajar yang benar. How? Bagaimana? Selain belajar dari pengalaman sendiri yang babak belur. Saya dihajar market, padahal market diem aja, hanya harga naik turun, tidak menganggu saya. Tapi saya loss melulu. Apa mau dikata?! Jelas, loss seolah adalah soulmate saya, profit musuh saya. Ada apa dengan saya? Saya mulai mikir, apa betul kata orang-orang bahwa trading "pasti loss." Probability win kecil sekali. Nah saya kan makin penasaran. Maka saya juga mencari tahu dari teman-teman yang notabene mempunyai "rapor" atau "statement" yang bagus, profit. Dari mereka saya mendapat masukan "ilmu gaya trading" yang berlainan. Ada yang hoby pakai grafik line, trading high low, hitung menghitung retreacement, baca candel stick, baca news, fundamental, segudang indicator, dllnya. Pikir saya wah seperti maen silat aja, punya ilmu dan memakai jurus-jurus sakti.

Waktu berjalan terus, teman yang dekat dengan saya, yang selama ini mengikuti, akhirnya tahu keadaan dan kemampuan saya ini. Kata teman-teman, kalau kamu ngobrol sesama teman trading, bahasa perdamaiannya hanya 4 kata. Ada 4 kata yang bisa teman-teman dan saya tahu artinya. Apakah itu? Kata yang familiar setiap hari kita dengarkan. Adalah kata Buy, Sell, Close, Cut loss. Hehehe...

Seperti Anda ketahui, dalam dunia forex sudah banyak para ahli : ahli trading, ahli cari profit, ahli menganalis market, ahli kotak katik dan menggunakan metatrader dengan segala menunya sehingga menemukan rumus-rumus baru dllnya. Saya disini terbeban mau berbagi PIPS dari signal yang saya berikan. Seperti apa gambaran signal yang saya berikan? Pengertian simpelnya simpel saja. Bagaimana menyelamatkan diri di market yg bergejolak, sekaligus mendapatkan "bonus profit."

Saya katakan profit adalah bonus. Karena kalau kita hanya mengejar profit, bagaimana kalau loss? Bukankah profit berhubungan erat dengan berkat? Tentu timbul pertanyaan, siapa saya, Kenapa saya seorang perempuan berani send signal? Sudah berpengalaman berapa tahun tradingnya? Begini, dalam trading menurut saya tidak memandang gender seseorang. Terlebih pengalaman trading saya, yang efektif kurang kurang dari 5tahun. meski mulai tahun 2001, tapi sempat terhenti ketika saya melanjutkan kuliah, sehingga tidak full latiaan tradingnya. Sempet juga, stop trading beberapa kali tapi sebentar-bentar. Ini terjadi ketika loss, babak belur, ke jedug-jedug market padahal market diem aja. Nah kalo yang begini, saya stop dulu, narik nafas, sedih sudah pasti. Pas saya rehat itu, saya mikir kok saya sengsara amat ya di trading forex ini. Ngapain sih, sengsara-sengsara begini, jantung mau copot ketika liat market dan account yang ludes, udah tinggalin aja, kerjakan yang lain. Tapi aneh, abis rehat, saya ngelirik market, liat chart....wew parah d....malah tambah penasaran, pengen tau, masak gue loss mulu sih. Enak aje.... gue mau pelototin lagi marketnya. Itu yang terjadi pada diri saya. Kesel, sedih, sengsara, tapi kok mau lagi. Sampai suatu hari ada teman yang berinisiatif membuatkan saya website.

Saya bukan orang pintar, jago trading, canggih tradingnya.. dllnya. Tapi saya hanya ada komitmen trading. Apa yang menjadi komitmen saya? Hehehe.... ? Penting adalah "cerdas terhadap keputusan yang diambil dalam suatu posisi, dengan pengaplikasiannya me-minimize risk." Itu saja? Ya itu saja.

© 2010 KristinaFX. All Rights Reserved